Beranda Berita

Harga BBM Tak Turun, Stimulus untuk Perusahaan Migas dari Uang Rakyat

1213

AKURAT.CO Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan (PUSHEPBisman Bakhtiar mengatakan, tidak kunjung turunnya Harga BBM merupakan bentuk insentif yang diberikan pemerintah kepada perusahaan minyak dan gas (migas).

Ia mengatakan, insentif tersebut dinilai merugikan masyarakat karena harus menanggung biaya lebih karena BBM tak kunjung turun. Padahal secara global harga minyak dunia turun drastis selama April hingga Mei.

“Tidak turunnya Harga BBM merupakan Stimulus untuk perusahaan migas, namun diambil bukan dari uang negara, tapi Uang Rakyat lewat selisih Harga BBM,” ucapnya saat telekonferensi, Jakarta, Kamis (11/6/2020).

Ia mengatakan, bukan hanya Pertamina, namun perusahaan migas swasta lainnya ikut menikmati tidak turunnya Harga BBM.

Stimulus ini pun dinikmati oleh Shell, Total, dan perusahaan swasta lainnya,” ucapnya.

Sebelumnya, Pengamat Energi Marwan Batubara, mengatakan harusnya Harga BBM Petralite bisa turun sekitar Rp5.250 per liter jika mengikuti harga minyak dunia dan aturan penentuan harga minyak menurut aturan Kementerian ESDM.

“harusnya harga minyak Pertalite RON 90 sekitar Rp5.250 per liter, bukannya dipertahankan jika mengacu pada aturan kementerian ESDM,” ucapnya saat konferensi pers online, Jakarta, Rabu (10/6/2020).

Seperti diketahui, formula Harga BBM merujuk Harga BBM di Singapore (Mean of Platts Singapore, MOPS) atau Argus periode tanggal 25 pada 2 bulan sebelumnya, sampai dengan tanggal 24 satu bulan sebelumnya, untuk penetapan Harga BBM bulan berjalan. Misalnya sesuai Kepmen ESDM No.62K/2020, formula harga jenis Bensin di bawah RON 95, Bensin RON 98, dan Minyak Solar CN 51, adalah: MOPS atau Argus + Rp1.800/liter + Margin (10 persen dari harga dasar).

Sesuai dengan formula di atas, berdasarkan nilai MOPS rata-rata 25 Februari sampai dengan 24 Maret 2020 dan kurs US$15.300, maka diperoleh Harga BBM bulan April 2020 untuk jenis Pertamax RON 92 adalah sekitar Rp5.500 dan Pertalite RON 90 sekitar Rp5.250 per liter.

Namun faktanya Marwan mengatakan, harga resmi BBM yang dijual di berbagai SPBU adalah Rp9.000 (Pertamax) dan Rp7.650 (Pertalite) per liter. Dengan demikian, jika dibanding harga sesuai formula, maka konsumen BBM Pertamax membayar lebih mahal sekitar Rp3.000 per liter. Hal yang sama terjadi untuk BBM Tertentu (solar) dan BBM Khusus Penugasan (Premium), dengan nilai kemahalan sekitar Rp1.250-1.500 per liter. Untuk semua jenis BBM rerata nilai kemahalan diperkirakan Rp2.000 per liter.

“Dengan demikian, kami mengaggap pemerintah dan badan usaha Pertamina, Shell, Total, BP, Exxon, Vivo, dan lain-lain terlihat nyata telah melanggar peraturan perundang-undangan Negara Republik Indonesia,” ucapnya.