Beranda Publikasi Opini

Kedudukan Production Sharing Contract dalam Industri Migas

Bisman Bhaktiar (Direktur Eksekutif PUSHEP)

2087

Minyak dan gas bumi (migas) merupakan salah satu sektor yang menjadi andalan pendapatan bagi negara untuk pembangunan, paling tidak Rp294,8 Triliun atau sebesar 19,3 % pendapatan negara dalam APBN Tahun 2013 bersumber dari sektor migas. Artinya,  begitu penting sektor ini untuk menjamin keberlangsungan pembangunan di Indonesia. Untuk itu, harus dijamin agar migas yang merupakan industri dengan karakteristik tersendiri yang memerlukan teknologi, biaya dan resiko yang tinggi berlangsung kondusif. Faktor teknologi, biaya dan resiko yang tinggi menyebabkan pemerintah Indonesia tidak dapat langsung mengelola sendiri kekayaan migas yang ada di bumi nusantara, sehingga diperlukan kerja sama dengan pihak investor (nasional maupun asing). Pelaksanaan kerja sama pengelolaan migas antara pemerintah dan investor dilandasi dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentag Migas dan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Migas.

Ikatan kerja sama pengelolaan migas antara pemerintah Indonesia yang diwakili oleh SKKMigas (dahulu BPMigas) dengan investor berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang dituangkan dalam sebuah kontrak yang disebut dengan kontrak bagi hasil atau Production Sharing Contract (PSC). Keberadaan kontrak ini untuk mengatur hak dan kewajiban bagi pemerintah Indonesia dan investor yang bertindak sebagai kontraktor serta untuk menjamin kepastian hukum bagi para pihak. PSC sebagai kontrak bisnis pada umumnya, berisi pengaturan segala hal terkait kerja sama pengelolaan migas, diantaranya tentang mekanisme operasional, bagi hasil, finansial, audit dan penyelesaian sengketa atau perselisihan para pihak. Dalam PSC juga diatur kewajiban kontraktor untuk menyediakan dana dan teknologi untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas serta menanggung risiko bila  terjadi kegagalan. Dengan kata lain bila terjadi kerugian karena tidak dapat memproduksi migas, maka pemerintah Indonesia tidak mengganti biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak kontraktor.

Sebaliknya, bila telah berhasil memproduksi migas, kontraktor berhak mendapatkan kembali biaya operasi yang telah dikeluarkan yang disebut dengan cost recovery. Sesuai yang diatur dalam PSC,  cost recovery adalah pengembalian biaya operasi yang meliputi biaya-biaya yang diperlukan untuk ekploitasi dan produksi migas  yang akan diperhitungkan dalam bentuk natura (minyak) atas produksi minyak yang dihasilkannya.

Perdebatan tentang mekanisme cost recovery kerap disuarakan oleh berbagai pihak, baik yang pro maupun yang kontra, dalam beberapa waktu terakhir ini cost recovery juga menjadi pokok bahasan yang menarik, bukan karena pengaruhnya pada pendapatan atau pengeluaran migas bagi negara, tapi terkait dengan kasus bioremediasi PT Chevron Pacific Indonesia yang merupakan kontraktor migas di Riau. Kasus ini telah berlangsung cukup lama, dari awal tahun 2012 hingga saat ini masih berlangsung.  Pelaksanaan proyek bioremediasi Chevron dianggap telah terdapat tindak pidana korupsi karena telah menyebabkan kerugian negara dengan menggunakan mekanisme cost recovery. Hal inilah yang memicu polemik dan perdebatan panjang di kalangan industri migas.

Kita sepakat bahwa pemberantasan korupsi harus didukung, namun dari kasus bioremediasi Chevron ini patut untuk menjadi perhatian, baik dari sisi hukum dalam pengelolaan migas maupun dari sisi pengaruhnya bagi industri migas. Dari sisi hukum, anggapan bahwa telah terjadi kerugian negara karena cost recovery  proyek bioremediasi Chevron sehingga hal ini menjadi kasus pidana adalah pandangan yang tidak tepat. Cost recovery  telah diatur dalam PSC, pandangan yang mengira penggantian biaya operasi dibayar tunai dan berasal dari APBN adalah sangat keliru, dalam mekanisme penggantian biaya operasi terdapat tiga proses yang saling terkait, yaitu (1) proses pengambilan hak atas minyak mentah atau lifting, (2) proses pelaporan biaya aktual dan (3) proses penyelesaian kelebihan/kekurangan pengambilan atau over/under lifting.  Proses lifting  dilakukan baik oleh pemerintah atau kontraktor dengan langsung mengambil minyak mentah bagiannya untuk dimuat kedalam tanker masing-masing.

Jika merujuk proses cost recovery tersebut, meskipun kontraktor telah mendapatkan penggantian biaya operasi, jika jumlahnya tidak sesuai atau seharusnya tidak dapat dikategorikan sebagai biaya operasi, pemerintah masih dapat menarik kembali jumlah selisih tersebut melalui mekanisme over/under lifting settlement. Dengan demikian,  jika terjadi dugaan penyimpangan pelaksanaan operasi migas oleh kontraktor,  maka biayanya tidak mendapatkan penggantian oleh pemerintah. Jika biaya tersebut telah dibayarkan,  pemerintah masih dapat mengambil kembali biaya yang telah dibayarkan tersebut melalui mekanisme over/under lifting settlement.  Jadi sebenarnya PSC telah mengatur dengan baik tentang hal tersebut, sehingga telah jelas bahwa tidak terjadi kerugian negara dalam konteks ini.

Berberkaca pada kasus bioremediasi Chevron,  jika terdapat permasalahan dalam pelaksanaannya, maka dalam penyelesaiannya harus kembali membuka pasal-pasal dalam PSC.  Sesuai asas hukum pacta sunct servanda yaitu kedudukan kontrak merupakan undang-undang bagi para pihak yang membuatnya, maka  sudah selayaknyalah pihak pemerintah dan Chevron mengacu kepada PSC.  Akhir kata, mari kita terus mendukung pemberantasan korupsi namun tetap melindungi industri migas dengan menghormati kontrak kerja sama yang telah ditandatangani bersama dengan kontraktor. Tanpa adanya kepastian hukum, industri migas akan terganggu, investor akan menjauh dari Indonesia dan lifting/pendapatan negara akan berkurang yang tentunya akan mengganggu pembangunan.