Beranda Berita

Penurunan Hanya Sementara Saham Batu Bara Segera Reli, Ini Alasannya

13

JAKARTA, Investor.id – Kabar India yang berencana menggenjot produksi batu bara menjadi 1,34 miliar ton pada 2026 hingga 2027, naik 47,4% dari saat ini merontokkan saham batu bara pada perdagangan Jumat (23/12/2022). Namun, jangan khawatir, pelemahan ini hanya sementara, karena Januari 2023, saham batu bara bakal reli, seiring berkurangnya agresivitas The Fed dalam mengerek suku bunga acuan.

Head of Research PT Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya berpandangan koreksi saham-saham batu bara lebih dipicu profit taking dan jual bersih secara besar-besaran investor asing selama Desember 2022.

“Jadi, sebenarnya bukan cuma saham coal yang turun, tetapi mayoritas saham, bahkan IHSG (indeks harga saham gabungan) juga terkoreksi. Akan tetapi, harga komoditas masih tinggi, batu bara masih stabil di atas US$ 400 per ton,” kata Cheryl kepada Investor Daily.

Januari 2023, dia memperkirakan, harga saham-saham batu bara berpotensi reli, seiring memudarnya agresivitas The Fed dan risiko resesi global. Ini ditambah dengan permintaan batu bara di Eropa yang masih terjaga di atas rata-rata, karena musim dingin.

Begitu pula, kata dia, permintaan batu bara di India yang terbilang masih tinggi akibat cuaca ekstrem, peningkatan aktivitas ekonomi, dan masih berlangsungnya boikot batu bara dari Rusia.

Meski begitu, Cheryl tak menampik, dalam jangka panjang, akan terjadi transisi dari energi fosil menuju energi hijau. Tetapi, kabar baiknya, perusahaan-perusahaan batu bara sudah mempersiapkan diri, bahkan berekspansi ke energi yang lebih ramah lingkungan, seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Cheryl menetapkan target harga ADRO dan PTBA masing-masing Rp 4.200.

Jumat lalu, harga saham emiten-emiten batu bara dengan market cap tinggi, seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) tergerus, yakni 3,5%, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) 1,16%, PTBA 0,53%, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) 0,43%.

Menurut Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan (PUSHEP) Bisman Bakhtiar, penurunan tersebut disebabkan oleh pasokan batu bara di pasar dunia yang sudah mulai normal, ditandai dengan membaiknya pasokan produksi dari negara-negara besar seperti Tiongkok dan India.

“Karena pasokan cukup, maka harga juga cenderung melandai sehingga berakibat pada harga saham,” ucap Bisman.

Kendati begitu, baginya, penurunan ini merupakan sesuatu yang wajar. Mengingat, lonjakan harga batu bara yang terjadi pada tahun 2022 anomali. Karena itu, jika sekarang dan nanti harga saham batu bara mengalami penurunan kembali, hal itu juga merupakan sesuatu yang wajar.

“Tapi, dalam waktu dekat ini, saya melihat tidak akan turun drastis. Cenderung turun namun melandai tipis,” tambah dia.