Beranda Publikasi Riset Kajian

Resume Kebijakan Energi Baru & Terbarukan

1750
Kincir Angin

Arah kebijakan penelitian, pengembangan dan penerapan iptek di bidang energi adalah: (a) Identifikasi, mapping data sumber energi baru dan terbarukan, potensi, kualitas, dan kuantitasnya, (b) Pengembangan teknologi sesuai dengan hasil mapping potensi sumber energi yang tersedia, (c) Kajian tekno-ekonomi, aspek finansial, dan analisis keberlanjutan (self sustaining) kegiatan yang akan dilakukan, (d) Diseminasi informasi, sosialisasi kepada semua pihak (stake-holder terkait), dan (e) Peningkatan efisiensi penggunaan energi.

Berbagai jenis sumber EBT yang diperhatikan dalam ARN 2010 – 2014 adalah sebagai berikut: (a) panas bumi; (b) angin; (b) batubara peringkat rendah; (c) biofuels, termasuk biodiesel dan bioethanolfuel-cellcoal bed methane; dan (k) konservasi energi

Status Penguasaan Teknologi Energi Baru Terbarukan

  1. Penguasaan Teknologi Coal Bed Methane (CBM)

Status teknologi saat ini sudah komersial, akan tetapi di Indonesia masih dalam taraf pengkajian. Instansi yang terlibat dalam kajian coal bed methane adalah ESDM (Lemigas), dan perusahaan migas Medco. Potensi CBM (coal bed methane) di Indonesia cukup besar tapi karena belum banyak di lakukan ekplorasi maka status potensi semuanya masih resources atau masih dugaan. Perlu dana yang besar dan teknologi tertentu untuk melakukan eksplorasi CBM. Di dunia yang sudah memanfaatkan potensi CBM baru USA dan Australia.

  1. Penguasaan Teknologi Pencairan dan Gasifikasi Batu Bara
    • Pencairan Batubara

Pengkajian dan penerapan teknologi pencairan batubara muda di Indonesia telah dilaksanakan oleh BPPT sejak tahun 1994. Setelah melakukan seleksi teknologi, BPPT melakukan kerjasama dengan NEDO selama 10 tahun (1994 – 2003). Penelitian pencairan batubara dilaksanakan dalam beberpa tahap sebagai berikut:

Tahap 1  (TA 1994 – 1998): Penelitian Dasar (Basic Research) yang meliputi kegiatan: Pengujian di laboratorium, Pelatihan di Jepang dan Applicability Study. Pada tahapan ini  BPPT berhasil menemukan katalis limonit dari Soroako sebagai pengganti katalis buatan yang harganya sangat mahal. Dan hasil temuan ini, telah dipatenkan bersama oleh BPPT dengan pihak Jepang.

Tahap 2 (TA 1999-2003): Penelitian Terapan (Technical Development) yang meliputi kegiatan: studi kelayakan, pembuatan desain konseptual pabrik pencairan batubara, riset up-grading minyak batubara, studi teknologi produksi hidrogen dan membangun coal liquefaction centre dengan bantuan peralatan hibah dari Jepang.

Tahap 3 (TA 2003-2006): Penyiapan Perencanaan Demo Plant (train 1 Commercial Plant) yang meliputi kegiatan: studi kelayakan detail, infrastruktur dan penambangan, basic design dan detail design, pelaksanaan AMDAL, project financing, penyusunan bankable proposal, penyiapan SDM di Indonesia dan sosialisasi kepada lingkungan setempat.

Tahap 4 (TA 2009- 2020): Tahap Realisasi/Komersialisasi, meliputi kegiatan pembangunan pabrik pencairan batubara yang terdiri dari 3 kegiatan utama yaitu Enjiniring, Procurement dan Konstruksi (EPC) selama 4 tahun untuk unit 1 dan sekitar 3 tahun untuk unit-unit berikutnya. Pengembangan pencairan batubara ke depan dimulai dengan pembangunan demonstration plant yang membutuhkan waktu sekitar 4 tahun. Setelah melalui pembuktian kehandalan engineering, maka selanjutnya demo plant tersebut akan diupgrade kapasitasnya menjadi 6,000 TPD dengan menambah reaktor secara pararel. Untuk dapat mencapai komersialisasi plant pencairan batubara di Indonesia.

  • Gasifikasi Batubara

Status gasifikasi batubara di Indonesia saat ini adalah demo plant, mendekati skala komersial.

BPPT bekerjasama dengan Nedo Jepang telah melakukan penelitian menggunakan metode fluidized bed atmospheric dengan bahan baku berupa campuran batubara muda dan biomassa. Hasil gasnya memenuhi standard kualitas gas mampu bakar namun efisiensi sistemnya masih perlu ditingkatkan.

  1. Penguasaan Teknologi Panas Bumi

Dari potensi yang ada sebesar 28.000 MWe (electric), sampai saat ini yang baru dilakukan pemanfaatan adalah 1.189 MWe. Rencana penambahan, 3.977 MWe (bagian dari program percepatan 10.000 MW tahap II) yang akan diselesaikan mulai 2010 s.d. tahun 2014.

  1. Penguasaan Teknologi Energi Surya
    • Pemanfaatan Energi Matahari Melalui  Sel Surya.

Penelitian pengembangan fabrikasi sel surya dan modul surya telah lakukan LIPI bekerjasama dengan PT. LEN Industri, yang saat ini memasuki tahap pengembangan ke dalam skala pilot.

  • Pemanfaatan Energi Matahari Melalui Pengkonsentra-sian  Energi

(Pembangkit Listrik Tenaga Matahari Terfokus, PLTMT).

Sejak tahun 2009, penelitian untuk memanfaatkan energi matahari tanpa menggunakan sel surya telah mulai dilakukan LIPI.  Dibeberapa negara seperti Iran, Amerika Serikat, dan sebagainya, teknologi pengkonsentrasian energi matahari (Concentrated Solar Energy) ini telah dicoba sampai pada skala pilot untuk menghasilkan listrik  pada jumlah yang cukup besar, 20-30 MW.

Adapun pengembangan PLTS dalam hal rancangbangun sistem serta Laboratorium Uji Mutu komponen PLTS telah dilakukan BPPT. Saat ini direncanakan untuk membangun industri Sel Surya teknologi Thin Film dimulai tahun 2011 dengan perkiraan kapasitas produksi 50 MWp per tahun. Teknologi Thin Film dinilai lebih sesuai untuk iklim tropis.

Pada tahun 2010 ini diajukan usulan Studi Persiapan Industri Sel Surya dan masih menunggu persetujuannya. Studi dapat dilakukan dalam 6 (enam) bulan dan akan menghasilkan rekomendasi teknologi, analisis potensi pasar, basis rancangbangun serta perencanaan industri, serta perencanan pengembangan teknologi produk sel surya.

  1. Penguasaan Teknologi Energi Angin/Bayu

Status pemanfaatan energi bayu masih sangat rendah, secara komulatif baru mencapai sekitar 2 MW terpasang, sementara potensi energi angin kecepatan angin 4-7 m/s dengan potensi sebesar 9,3 GW belum termanfaatkan. Pemanfaatan teknologi energi bayu umumnya untuk sistem terisolir dan tersendiri (stand alone), maupun sistem hibrida dan on grid. Pemanfaatan PLTB dengan daya yang relatif besar (daya 80 kW dan 100 kW) masih menggunakan teknologi import (buatan Belanda dan China).

  1. Penguasaan Teknologi Energi Laut

Energi Laut yang sedang dikembangkan, khususnya oleh BPPT adalah Energi Arus Laut. Lokasi dengan potensi energi arus laut diperkirakan banyak terdapat di wilayah Indonesia, mengingat lokasi geografis antara dua lautan, serta struktur wilayah dengan banyak pulau dan selat yang menghasilkan arus laut yang potensial. Balai Penelitian dan Pengkajian Hidrodinamika (BPPH) BPPT melakukan kegiatan pengembangan ini dan memiliki kemampuan modeling dan uji laboratorium.

Status Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) sampai sekarang sudah sampai dalam tahap uji coba protipe kapasitas 3.5 kW di Selat Flores Larantuka Kabupaten Flores Timur NTT. Turbin arus laut yang digunakan adalah turbin tipe sumbu vertikal. Hampir 95% teknologi turbin arus laut sumbu vertikal sudah dikuasai. Uji coba telah dilaksanakan pada akhir Maret dan awal April 2010 lalu. Uji coba telah menghasilkan listrik sebesar 1.900 watt fluktuatif.

Rencananya listrik yang dihasilkan oleh PLTAL akan disalurkan ke Desa Wure Kecamatan Adonara Barat Kabupaten Flores Timur NTT.

  1. Penguasaan Teknologi Algae

Di level dunia saat ini belum ada teknologi energi berbasis alga mikro (microalgae) yang sudah dapat diterapkan secara komersial. Semuanya masih dalam tahap R & D (Litbang), sekalipun sudah ada yang cukup jauh di tahap pengembangan.

Di Indonesia, penelitian-penelitian bertema bahan bakar nabati dari alga mikro sudah dan masih sedang dilakukan di berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi, tetapi kebanyakan masih berfokus pada budidaya alga mikro (yang sudah dipunyai masing-masing lembaga). Riset-riset untuk menghasilkan teknologi-teknologi pemanenan, pengeringan dan ekstraksi (minyak-lemak atau pati) yang hemat biaya masih perlu didorong. Oleh karena ini, dalam Agenda Riset Nasional 2010-2014 dicantumkan bahwa “Teknologi-teknologi untuk menghasilkan minyak-lemak atau pati murah dari alga mikro” merupakan salah satu tema riset yang perlu digarap oleh kalangan peneliti terkait.

Pengembangan teknologi generasi ke-2 pengembangan energi dengan memanfaatkan penguraian mikroalgae telah dilakukan LIPI.

  1. Penguasaan Teknologi Biofuel

Teknologi-teknologi BBN generasi 1 karya anak-anak bangsa, masih perlu terus dimutakhirkan/diefisienkan melalui penelitian-penelitian lanjutan, agar mencapai tahap untuk diterapkan secara komersial pada skala industri kecil-menengah.

  1. Penguasaan Teknologi Hydrogen
  • Fuel Cell

LIPI telah mengembangkan sistem katalis khusus untuk mendapatkan hidrogen kemurnian tinggi melalui dekomposisi ammonia. Sumber hidrogen yang lain adalah air melalui teknologi elektrolisa dari sumber energi surya atau dengan bantuan bakteri atau tanaman.

  • Biohidrogen

Kajian gasifikasi biomassa tengah dilakukan BPPT untuk menghasilkan gas sintesa (syngas) dengan kandungan utama Hydrogen (H2) dan CO. Program gasifikasi biomassa baru dimulai pada tahun 2010, untuk kajian produksi syngas menggunakan gasifikasi steam plasma sebagai bahan baku pupuk. Program ini diawali dengan perancangan torch (obor) plasma untuk reaktor gasifikasi.

  1. Penguasaan Teknologi Dimethyl Ether (DME)

Saat ini BPPT bekerja sama dengan Pertamina berupaya mengembangkan DME sebagai alternatif penganti LPG.