Beranda Berita

Sssttt! Saham Batu Bara bakal Jadi Primadona

6

 

JAKARTA, Investor.id – Saham-saham emiten batu bara berpotensi menjadi primadona sejalan dengan terus meningkatnya harga batu bara di pasar internasional. Harga batu bara melesat 153% sejak awal tahun. Namun, kenaikan harga ’emas hitam’ belum tercermin di lantai bursa.

Harga saham emiten batu bara selama tahun berjalan (year to date/ytd) rata-rata hanya menguat 33,5%, bahkan sebagian masih negatif. Di tengah prediksi harga batu bara yang akan terus naik, harga saham emiten batu bara berpeluang rally setidaknya sampai akhir tahun.

Meski demikian, prospek harga batu bara akan tetap ditentukan oleh permintaan dan pasokan komoditas tersebut di sejumlah negara yang tengah berupaya mengurangi penggunaan energi fosil, seperti Inggris, Tongkok, dan Australia. Faktor lain yang akan memengaruhi harga batu bara adalah pemulihan ekonomi global dan kasus Covid-19. Kenaikan harga batu bara akan berlanjut jika konsumsi komoditas tersebut terus meningkat.

Hal itu terungkap dalam wawancara Investor Daly dengan Founder Bageur Stock Andy Wibowo Gunawan, Head of Research PT Henan Putihrai Sekuritas Robertus Yanuar Hardy, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP) Bisman Bhaktiar, analis Henan Putihrai Sekuritas Liza Camellia, serta Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara. Mereka dihubungi secara terpisah di Jakarta, Selasa (28/9).

Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 9,38 poin (0,15%) ke level 6.113,11 pada perdagangan Selasa (28/9). Di tengah pelemahan IHSG, harga saham emiten batu bara justru melejit. Harga saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 6,9%, saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik 6,3%, dan saham PT Indika Energy Tbk (INDY) melejit 19,3%. Adapun saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan Bayan Resources Tbk (BYAN) masing-masing melesat 15,2% dan 16,6%.

Meski demikian, selama tahun berjalan (ytd), saham ITMG, INDY, ADRO, dan BYAN masing-masing ‘hanya’ menguat 42,2%, 5,2%, 21,7%, dan 38%. Bahkan, saham PTBA masih minus 6,4%. (Lihat tabel)

Perkembangan Harga Saham 20 Emiten Batu Bara

Kode Saham30-Dec-2028-Sep-21% PerubahanMarket Cap (Rp T)
BYAN15,47521,35038.071.17
ADRO1,4301,74021.755.66
PTBA2,8102,630-6.430.30
ITMG13,85019,70042.222.26
GEMS2,5503,71045.521.82
HRUM2,9807,950166.821.49
DSSA16,00017,5009.413.48
INDY1,7301,8205.29.48
BSSR1,6952,26033.35.91
BUMI7268-5.65.05
MBAP2,6903,73038.74.58
TOBA5205200.04.19
PTRO1,930234021.22.36
KKGI26629812.01.49
ARII396346-12.61.08
SMMT11618862.10.59
CNKO50500.00.45
GTBO75750.00.19
BOSS150119-20.70.17
AIMS148312110.80.07

Lonjakan harga batu bara di pasar internasional antara lain dipicu oleh ‘kegagalan’ Inggris, Tiongkok, dan Australia mendiversifikasi bahan bakar pembangkit listriknya dari batu bara ke energi baru dan terbarukan (EBT). Di Inggris, akibat konversi batu bara ke gas alam dan tenaga angin, harga listrik melejit hampir dua kali lipat dari 44,18 per Mwh menjadi 75,32 per MWh setelah harga gas melambung 250%.

Inggris, yang melakukan diversifikasi energi secara masif demi mengejar target penggunaan energi hijau dari batu bara ke gas dan EBT, akhirnya kembali menggunakan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listriknya.

Hal serupa dialami Tiongkok, produsen batu bara terbesar di dunia, yang sedang berjuang mengurangi pengunaan energi fosilnya. Negeri Tirai Bambu kini dalam cengkeraman krisis listrik setelah negara itu mengurangi penggunaan batu bara untuk mengurangi polusi udara.

Alhasil, industri manufaktur di sejumlah wilayah Tiongkok kini berhenti beroperasi. Kasus Tiongkok turut menyeret kejatuhan harga logam, seperti nikel, timah, tembaga, dan baja yang menjadi bahan baku manufaktur. Kasus yang hampir sama dialami Australia, salah satu produsen batu bara terbesar di dunia.

Baik Inggris, Tiongkok, maupun Australia menghadapi masalah yang sama saat melakukan diversifikasi energi pembangkit listriknya. Ketika ekonomi mulai pulih, supply listrik berbasis EBT tidak siap memenuhi permintaan yang naik. Apalagi pandemi membuat kegiatan pembangkit listrik belum sepenuhnya normal.

Di Inggris masalahnya lebih pelik lagi. Selain tingginya permintaan yang tak bisa diimbangi pasokan, pembangkit-pembangkit listrik di negara tersebut mengalami gangguan produksi. Kondisi itu diperparah oleh dugaan rekayasa harga gas alam oleh produsen gas Rusia yang memicu lonjakan harga gas dalam beberapa waktu terakhir.

Menyusul terjadinya krisis listrik tersebut, ketiga negara bakal memundurkan target pengurangan emisinya. Semula, Inggris menargekan pengurangan emisi karbon hingga 78% pada 2035 dibandingkan tingkat emisi 1990. Sedangkan Tiongkok berkomitmen mengurangi emisi karbon secara drastis pada 2060. Adapun Australia berkomitmen mengurangi emisi pada 2030 sebesar 26-28% dari level tahun 2005.

Perkembangan Harga Batu Bara Acuan & Harga Batu Bara Internasional (US$/Ton)

BulanHarga Batu Bara AcuanHarga Batu Bara Internasional
Jan-2175.8486.20
Feb-2187.7985.10
Mar-2184.4796.25
Apr-2186.6893.30
May-2189.7496.80
Jun-21100.33128.55
Jul-21115.35149.75
Aug-21130.99172.00
Sep-21150.03210.00

 

Tergantung Tiongkok

Analis pasar modal dan Founder Bageur Stock, Andy Wibowo Gunawan mengungkapkan, perkembangan harga batu bara yang saat ini berada di level US$ 210 per ton, akan ditentukan oleh konsumsi dan produksi batu bara di Tiongkok, baik dalam jangka menengah maupun jangka panjang.

“Seberapa lama tren harga batu bara bertahan tergantung kebijakan pemerintah RRT sebagai produsen dan konsumen terbesar batu bara di dunia,” kata dia.

Andy mengaku belum menemukan downside risk harga batu bara.   Harga komoditas tersebut diperkirakan bertahan di atas level US$ 150 per ton. Namun, apabila RRT tiba-tiba menaikkan produksi batu bara dalam negerinya, harga batu bara di pasar gloal bisa turun di bawah US$ 100 per ton.

“Karena itu, investor saham yang ingin berinvestasi di saham batu bara harus selalu mencari informasi terbaru mengenai kebijakan yang akan dilakukan pemerintah Tiongkok. Penggunaan kembali batu bara dalam jumlah besar, khususnya di Tiongkok, Inggris, dan Australi, bakal meningkatkan kinerja harga saham para emiten batu bara,” papar dia.

Andy Wibowo menjelaskan, kenaikan harga saham batu bara saat ini tidak serta-merta mencerminkan fundamental emitennya. Soolnya, ada perbedaan lanskap industri sektor batu bara di Indonesia sebelum dan sesudah 2018.

Dia mencontohkan, Kementerian ESDM mengimplementasikan patokan harga untuk pasokan wajib ke pasar domestik (domestic market obligation/DMO) sebesar US$ 70 per ton. Alhasil, emiten-emiten batu bara saat ini tidak bisa menikmati rally harga batu bara global seperti terjadi sebelum 2018.

Andy menyarankan investor mengoleksi saham ITMG yang sejak akuisisi tambang batu bara dengan nilai kalori rendah mendapatkan keuntungan dari kebijakan transfer kuota DMO yang berkurang.

Pada 2018, menurut dia, Indo Tambangraya menghadapi situasi yang menantang karena tambang batu bara perseroan kebanyakan memiliki nilai kalori tinggi. Padahal, mayoritas konsumsi batu bara di Indonesia saat itu adalah batu bara berkalori rendah-menengah.

“Itu sebabnya, Indo Tambangraya harus melakukan transfer kuota DMO dengan pemain batu bara lainnya, di mana harga transfer kuota DMO tidak diatur pemerintah dan lebih bersifat supply-demand saja,” ujar dia.

Naik Jangka Pendek

Di sisi lain, Head of Research PT Henan Putihrai Sekuritas, Robertus Yanuar Hardy mengatakan, dampak pengalihan kembali penggunaan energi bersih ke batu bara dapat mendorong penguatan saham-saham emiten batu bara dalam jangka pendek.

“Harga batu bara masih berpotensi menguat akibat meningkatnya permintaan, sementara pasokan masih terbatas. Itu sentimen utamanya,” tutur dia.

Meski demikian, kata Robertus, penguatan harga batu bara akan tetap dipengaruhi oleh berbagai sentimen lainnya, seperti pengetatan likuiditas melalui pengurangan pembelian obligasi (tapering) oleh Bank Sentral AS, The Fed.

“Pengetatan likuiditas di AS bisa memengaruhi pertumbuhan ekonomi global dan memicu gejolak, sehingga kegiatan produksi manufaktur dan pembangkit listrik pengguna batu bara ikut terpengaruh,” ujar dia.

Robertus memprediksi harga batu bara pada akhir 2021 tertekan ke level US$ 190-180 per ton. Potensi kenaikan suku bunga The Fed tahun depan juga bisa kembali menekan harga batu bara, sehingga harga komoditas itu bisa turun ke kisaran US$ 150-140 .

Robertus mengakui, tak semua emiten batu bara terkena imbas kenaikan harga. Misalnya PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang sedang menjalani mandat sebagai penyedia batu bara di pasar lokal bagi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Exposure ke harga batu bara global yang sedang tinggi antara lain dimiliki Indo Tambangraya, Adaro, dan Harum Energi yang porsi ekspornya cukup besar,” tandas dia.

Dalam kondisi seperti ini, menurut Robertus, sebaiknya investor memanfaatkan euforia untuk merealisasikan keuntungan sebelum harga batu bara kembali turun. “Menurut saya, sektor batu bara masih netral dengan kecenderungan negatif,” ucap dia.

Tergantung Batu Bara

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bhaktiar mengungkapkan, kegagalan sejumlah negara beralih dari batu bara ke energi bersih sudah diperkirakan sebelumnya. Soalnya, butuh prasarana dan waktu yang tidak sebentar untuk beralih sepenuhnya ke energi EBT.

“Faktor pendukung utama adalah masih banyaknya power plan dan ketergantungan industri pada energi fosil, terutama migas. Ketergantungan terhadap batu bara pun masih cukup tinggi, setidaknya hingga 10 tahun ke depan,” kata dia.

Menurut analis Henan Putihrai Sekuritas, Liza Camellia, secara teknikal saham ADRO pada posisi sell on strength dengan harga Rp 1.730-1.750. Level tersebut sudah mencapai area target pada pola parallel channel. “Velocity-nya sudah semakin curam. RSI-nya pun sudah matang di area overbought,” tegas dia.

Untuk saham PTBA, Liza memproyeksikan uptrend yang sustainable menuju target Rp 2.900-2.950   sebagai hasil patahnya tren turun dalam pola falling wedge. Level support terdekatnya saat ini adalah Rp 2.500.

Adapun untuk saham ITMG, Liza Camellia menyarankan sell on strength pada level Rp 19.700 dengan level support terdekat Rp 19.300. Terakhir, saham INDY diperkirakan menguat dan terhenti di level Rp 2.000 sejalan dengan munculnya pola  falling wedge.

“Sangat tidak confident untuk merekomendasikan buy karena velocity-nya sudah terlalu curam. Indicator RSI-nya pun sudah masuk area overbought,” tutur dia.

Naik Sampai 2022

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (Iress), Marwan Batubara memproyeksikan harga batu bara terus naik hingga akhir tahun, bahkan sampai awal 2022.

Dia menjelaskan, sejumlah faktor yang akan membuat harga batu bara terus melambung antara lain hubungan Tiongkok-Australia yang belum membaik. Memburuknya hubungan Australia – Tiongkok dipicu saat Canberra menyerukan penyelidikan internasional tentang asal-usul pandemi virus Corona pada April 2020. Beijing menganggap hal tersebut bagian dari provokasi.

“Selama ini Tiongkok mengimpor batu bara dari Australia. Sekarang, untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya, Tiongkok meningkatkan volume impor dari beberapa negara lain, termasuk Indonesia,” ujar dia.

Faktor berikutnya, kata Marwan, adalah meningkatnya kebutuhan batu bara Tiongkok karena negara itu segera memasuki musim dingin. Pada musim dingin, harga batu bara cenderung menguat akibat melonjaknya permintaan.

Dia menambahkan, pergerakan harga batu bara berkolerasi dengan tingkat produksi. Alhasil, pada 2022, produksi batu bara nasional diproyeksikan meningkat. “Batu bara masih menjadi primadona dalam memenuhi kebutuhan energi,” tandas dia.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada awal tahun ini mematok produksi batu bara sebesar 550 juta ton. Namun pada April lalu, Kementerian ESDM menambah target produksi 75 juta ton seiring terus meningkatnya harga batu bara. Dengan tambahan produksi tersebut, produksi batu bara nasional tahun ini ditargetkan mencapai 625 juta ton. Tambahan produksi itu khusus diperuntukkan bagi kuota ekspor.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi menegaskan, lonjakan harga batu bara tidak mengerek tarif listrik di Indonesia. Soalnya, pemerintah telah menetapkan batas atas harga batu bara khusus pembangkit listrik sebesar US$ 70 per ton. (rap/az)