Beranda Berita

Antam (ANTM) Finalisasi Proyek Baterai EV US$ 6 Miliar

11

JAKARTA, investor.id – PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) atau Antam tengah memfinalisasi kesepakatan investasi pengembangkan industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dengan PT Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL), anak usaha CATL, dan LG Energy Solution (LGES) senilai US$ 6 miliar atau setara Rp 90 triliun. Kesepakatan proyek ini ditargetkan diteken tahun ini.

Direktur Pengembangan Usaha Antam (ANTM) Dolok Robert Silaban menjelaskan, kerja sama antara Antam, CBL dan LGES fokus pada sisi hulu (upstream) dari industri baterai EV. Sampai sekarang, conditional shares purchase agreement (CSPA) kerja sama ini segera rampung.

Sebab, kata dia, masih ada beberapa kondisi dalam transaksi yang harus dinilai, terutama menyangkut reserved atau cadangan nikel yang kadarnya perlu dinaikkan. Hal ini yang Antam negosiasikan dengan CBL dan LGES.

Dia menambahkan, semua pihak sudah sepakat untuk menjalin kerja sama, yakni di sisi hulu baterai EV. Di sisi lain, ada complement date atau long stop date yang terus dikejar. Sebab, investasi ini bergantung pada Tiongkok, sehingga perlu mendapatkan persetujuan dari Overseas Direct Invesment (ODI).

“Kalau nilai investasi proyek ini secara overall sekitar US$ 6 miliar mulai dari hulu sampai hilir. Di midstream Antam juga terlibat,” jawab Dolok kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (16/1/2023).

Sebagai gambaran alur hilirisasi, Dolok memerinci, Antam akan berperan menambang bijih nikel. Kemudian bijih tersebut diolah menjadi nikel sulfat yang selanjutnya diproduksi menjadi baterai baik dalam bentuk material maupun yang sudah berbentuk baterai PX. Setelah itu, ada proses daur ulang atau biasa disebut dengan istilah battery recycle.

“Nah, ini yang segera kita rampungkan. Semua itu akan kita selesaikan setelah CSPA ini selesai,” imbuh Dolok.

Menurut Dolok, industri baterai dari tahun ke tahun terus berkembang, seperti yang terjadi di Jepang, Tiongkok, Korea, hingga Eropa atau Amerika Serikat (AS). Antam menilai, negara-negara tersebut sebagai negara yang cukup berhasil dalam mengembangkan industri baterai.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep)  Bisman Bakhtiar  berpendapat, industri baterai EV merupakan industri masa depan. Sebab, hal ini berkaitan dengan transisi energi khususnya di sektor transportasi.

“Jadi, masa depan EV ini akan menjadi industri yang cerah,” tutur Bisman kepada Investor Daily.

Apalagi, menurut dia, Indonesia memiliki keunggulan di sisi hulu, yakni sumber daya mineral nikel yang bisa dimanfaatkan untuk bahan baku baterai EV. Hanya saja, saat ini, ekosistem EV belum terbangun secara ideal lantaran masih belum optimalnya di hilir dan industri ikutan. Bagian ini yang harus menjadi perhatian pemerintah guna mendorong industri ikutanya.

Paling tidak, dia memproyeksikan, industri EV battery memerlukan waktu 10 tahun untuk benar-benar bisa berjalan ideal dan berkelanjutan. Kendati begitu, geliat industri baterai EV telah cukup memberikan sentimen positif bagi kinerja Antam ke depan.

“Antam punya industri hulu sampai hilir. Walaupun sebagai pemain hulu, Antam tidak begitu besar,” tandas Bisman.