Beranda Uncategorized

Peneliti PUSHEP Ilham Putuhena: Generasi Muda Dukung Penguatan Aspek Hukum Ketahanan, Kemandirian, dan Kedaulatan Energi

9

 

Peneliti Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Ilham Putuhena dalam Pelatihan Bela Negara untuk Ketahanan, Kemandirian, dan Kedaulatan Energi Nasional mengatakan bahwa generasi muda perlu mendukung penguatan aspek hukum kebijakan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi. Menurutnya, hal itu agar peran generasi muda terhadap keberlanjutan energi nasional mendapat jaminan hukum. Lebih lanjut dikatakan oleh Ilham Putuhena bahwa saat ini partisipasi generasi muda dalam mendorong transisi energi, dari energi fosil ke energi baru dan terbarukan sangatlah luas.

Ilham Putuhena menyampaikan bahwa partisipasi pemuda dalam advokasi kebijakan dan kampanye untuk beralih ke energi ramah lingkungan perlu mendapat perlindungan. Di beberapa negara, gerakan generasi muda terhadap isu ini cenderung dihadapi dengan tindakan represif aparat. Selain ketentuan tersebut, aspek hukum kebijakan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional perlu menjawab beberapa permasalahan lain dalam pengelolaan sumber daya alam, khususnya terkait dengan jumlah cadangan dan tingkat produksi gas bumi dan batu bara yang tinggi belum diimbangi dengan tingkat pemanfaatan yang optimal bagi pemenuhan kebutuhan di dalam negeri. Hal ini antara lain diakibatkan oleh kebijakan ekspor dan terbatasnya infrastruktur di dalam negeri. Jika kondisi ini tidak teratasi secara baik akan memicu permasalahan ekonomi dan sosial yang lebih luas.

Menurut Ilham Putuhena, permasalahan lainnya adalah pertumbuhan konsumsi minyak bumi yang tidak dapat diimbangi secara proporsional oleh peningkatan supply dari produksi dalam negeri, akan menyebabkan semakin tingginya impor minyak mentah dan BBM, sehingga dapat membahayakan ketahanan nasional di masa mendatang. Selain itu, keberpihakan pengelolaan kepada pelaku dalam negeri, sehingga sebagian porsi pengelolaan SDA khususnya migas dan pertambangan batu bara besar dikuasai oleh pihak asing. Kondisi lain saat ini yang juga terjadi adalah pengembangan dan pemanfaatan SDA energi baru dan terbarukan yang belum optimal, sehingga berpotensi menimbulkan disruption di dalam supply energi di masa mendatang, sebagai akibat akan menurunnya kemampuan supply dari sumber energi fosil.

Lebih lanjut, Ilham Putuhena menambahkan bahwa ketidakmerataan akses terhadap SDA energi, dimana masyarakat di pedesaan dan daerah terpencil memiliki akses yang rendah dibandingkan masyarakat di perkotaan. Hal ini berpotensi memicu kecemburuan antar wilayah. Pengelolaan SDA energi yang tidak ramah lingkungan, Eksploitasi SDA khususnya pertambangan minerba sangat tidak ramah lingkungan.

Ilham Putuhena menjelaskan dalam pelatihan tersebut bahwa ketahanan, kemandirian dan kedaulatan energi merupakan suatu keniscayaan yang dibutuhkan dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan. Ketahanan energi ialah ketersediaan (availability) dengan indikator sumber pasokan, kemampuan untuk membeli (affordability) yakni daya beli yang dikorelasikan dengan pendapatan nasional per kapita, dan adanya akses (accessibility) bagi pengguna energi untuk menggerakkan kehidupan dan roda ekonomi, serta bertahan untuk jangka panjang (sustainability).

Ilham Putuhena menambahkan bahwa kemandirian energi ialah kemampuan negara untuk memanfaatkan keanekaragaman energi dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat. Adapun terkait kedaulatan energi ialah hak negara untuk secara mandiri menentukan kebijakan pengelolaan energi untuk mencapai ketahanan dan kemandirian energi.

Oleh sebab itu, kata Ilham Putuhena, bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan kebijakan dan strategi implementasi agar upaya tersebut dapat memberikan manfaat bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia. Indonesia pada dasarnya merupakan negara yang memiliki kekayaan dengan potensi sumber daya alam yang melimpah. Minyak dan gas bumi (migas), mineral dan batu bara serta aneka jenis energi baru dan terbarukan (EBT) lainnya merupakan beberapa contoh dari kekayaan sumber daya alam yang dimiliki.

Jika hal itu tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah dan pemangku kebijakan lainnya maka Indonesia akan semakin sulit bersaing dalam kompetisi global. Menurut Ilham Putuhena, perlu dilakukan konsolidasi oleh pemangku kepentingan dengan melibatkan generasi muda. Keterlibatan peran partisipasi aktif pemuda pada kebijakan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi diharapkan menjadi investasi gerakan generasi muda untuk menjadi penyangga kebijakan energi nasional.