Beranda Publikasi Kegiatan

Sektor Pertambangan dan Energi Indonesia dalam Pusaran Investasi China

236
Sektor Pertambangan dan Energi Indonesia dalam Pusaran Investasi China

 

 

 

Investasi dari China yang masuk ke Indonesia sangat besar, termasuk di sektor industri pertambangan dan energi, diantaranya seperti terlihat dengan banyaknya investor China yang bergerak di industri smelter, pembangkit listrik dan usaha pertambangan baik mineral maupun batubara. Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Pusat Studi Energi dan Pertambangan (PUSHEP) Bisman Bhaktiar ketika “meeting” dengan Alvin A Camba, Kandidat PhD John Hopkins University yang sedang melakukan penelitian di Indonesia soal “Dampak Investasi China di Indonesia”.

 

Di awal pertemuan, Alvin mengutarakan alasan ketertarikannya pada investasi China di negara-negara Asia Tenggara, salah satunya di Indonesia. Menurutnya, China saat ini lagi gencar-gencarnya melakukan investasi di negara-negara lain termasuk di Indonesia.

 

Menurut Bisman Bhaktiar, investasi China di Indonesia memberikan pengaruh terhadap pembangunan dan perekonomian nasional. Oleh karena itu, secara langsung investasi tersebut pasti memberikan dampak bagi Indonesia. “Secara otomatis, investasi China di Indonesia memiliki dampak positif dan negatif. Pertama-tama, positif terdiri dari 4 aspek diantaranya meningkatkan pertumbuhan ekonomi (economy development), mendorong perkembangan industri (industrial development), membuka lapangan kerja (job opportunity), dan menimbulkan multiflier effect, ujar Bisman Bhaktiar ditemui di Kantor PUSHEP, Jakarta (26/11/19).

 

Lebih lanjut, Bisman Bhaktiar mengungkapkan bahwa sebenarnya terdapat bahaya yang mesti diwaspadai pemerintah Indonesia terhadap investasi China tersebut. “Ada dampak negatif yang tidak dapat terhindarkan. Permasalahan sosial di lingkungan pekerja (social labour problem) telah muncul ditengah-tengah aktivitas pekerja. Kemudian, problematika banjirnya pekerja China dan soal kualitas pekerja China yang masuk ke Indonesia bukan hanya pekerja ahli tetapi pekerja kasarpun juga masuk, hal ini tentunya sangat disayangkan karena seharusnya pekerja dometik rakyat Indonesia yang harus diutamakan” imbuhnya.

 

Alvin menegaskan pertanyaannya soal pekerja China (Chinese’s workers) yang jumlahnya begitu banyak masuk ke Indonesia. “Isu yang muncul di media, pekerja China yang datang ke Indonesia tidak sedikit dan telah memunculkan problematika yang begitu serius, bagaimana dengan itu?”, tanya Alvin.

 

Menanggapi pertanyaan itu, Bisman Bhaktiar mengatakan hal demikian memang terjadi dan menjadi masalah sosial dan masalah nasional yang harus diatasi. “Memang begitu adanya, dalam aturannya tenaga kerja asing (foreign worker) di Indonesia, yang dibutuhkan dan diterima adalah mereka yang expert. Namun, pada kenyataanya, pekerja China yang datang ke Indonesia lebih banyak yang bukan ahli, malah pekerja kasar yang tidak sesuai dengan kualifikasi (unstandardized workers). Inilah yang harus kita kritisi, mengapa hal itu dibiarkan, Pemerintah perlu melakukan pengawasan dan tindakan” tegasnya. Prinsipnya kita terbuka investasi dari manapun, namun harus dipertimbangkan dampak ekonomi, sosial maupun aspek hukumnya.